Insodenia News

Wednesday, January 09, 2008

"Aku" Ketika Menjebak Diri Dalam Rutinitas

16.00 WIB
posisi dimana?
lagi jaga..
jaga apaan sore-sore gini?
lagi jaga realitas dan harmonisasi perut dan kepala.
binatang apaan tuh, baru denger..
udah ada dari dulu, cuma kulitnya aja yang beda. ada yang bilang anak peradaban.
galak kah?
sometimes.. tapi aku pikir lebih sering melenakan iya..
ok deh met jaga aja.. kapan-kapan kita ngobrol lagi ya.

18.00 WIB
lagi ngapain mas..?
lagi nonton Naruto..
apa sih enaknya nonton kartun ga mutu kayak gitu?
mending kan daripada nonton sinetron yang udah ketebak akhirnya..
iya tapi ga ada kesibukan lain apa?
ada.. lagi ngitung uang.
wakakak.. enak dong, banyak duit.
ga, orang duitnya orang kok.
trus narutonya gimana?
masih, lagi ngeluarin jurus seribu bayangannya..
sama saur sepuh bagus mana?
wah, udah lama banget tuh. terlalu lama untuk diingat dan udah ketuaan.
jalan yuk..
ga ah.. narutonya belum kelar.
udah tua kok sukanya film kartun, ga mutu lagi.
biarin..
ga asyik ah. dah dulu ya.. bye..

20.00 WIB
kapan kamu pulang?
masih bingung nih, masih banyak kerjaan disini..
tapi kita semua rindu kamu..
tapi cinta tidak selalu harus diartikan dengan pulang kan?
ya.. terserah kamu saja lah.. yang jelas kita selalu tunggu cintamu disini.

23.30 WIB
lagi ngapain?
lagi ngangkat gelas pertama malam ini.
hahaha.. hati-hati jangan sampe ngebakar rumah lho..

Labels:

Sunday, November 18, 2007

Anger

sepertinya kita harus pergi,
selalu pada apa yang kita yakini.
lagi dan lagi...
seperti yang sudah-sudah..

atau baiklah kita diam saja,
menunggu kepala kita penuh bara.

Labels:

Wednesday, November 07, 2007

Le'etranger

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
tubuhnya legam, agar membaur sewarna malam
dalam gelap, tubuhnya senyap menyelinap
dalam samar, ia menyamar
dalam cahaya terang, ia berdiri menantang.

genderang ditabuhnya,
semua jiwa meradang, lalu perang..
hingga petang datang.

lalu ia berbalik pergi,
kepada sunyi ia kembali
kegorong-gorong atau emperan kali
lalu ia berbalik lagi, kepada musim semi
"bangunlah kawan!, eratkan tanganmu pada senjata, kini masa kita berperang, tlah datang lagi..!"

dua masa setelah itu
ia sedang bersantai ditepian kali
bercengkerama dengan matahari
ketika mereka menciduknya
lalu dipajang dialun-alun.

dari matanya,
ia masih tegar dan bergetar
tapi menjelang pagi,
jiwanya pergi..
ditingkah alunan lembut denting kecapi.

Labels:

Wednesday, October 24, 2007

Kelu

Siapkah aku..
ketika tiba waktu lidahmu mengucap kata.
seharusnya kau bisa lihat,
betapa aku terpuruk dengan kekagumanmu yang mengikat.
tak pernah kuingin kau terpikat.
karena aku tak ingin kita saling terikat.

hatiku pahit..
agar kau tahu.
hatiku cela..
kau harus tahu.
tapi bukan penawar,
dari lukamu yang memar.
hatiku cemar, oleh benalu.

hatiku batu. 'pun kan pecah oleh batu.
berapa lama lagi harus kau teteskan air imaji dimataku.

jika kau sadar, tak hendak kau memuja amarahku.
jika kau sadar, dari mulutmu hanya ada desir angin yang beku.

yang kau tak pernah tahu..
adalah berhenti mencintaiku...

Labels:

Friday, October 12, 2007

Kembali ke Jalan Pulang..

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

tawanya, seperti mimpi yang tercecer
dari situan penidur yang terjaga tiba-tiba dari lelapnya.
matanya menerawang menembus langit-langit kamar.
jiwanya merdeka sekaligus hampa.
seperti petualang yang mengunjungi makam-makam tak bernama.
terkadang menyusuri tepian-tepian pantai dinegeri-negeri seberang,
entah apa namanya.
lalu kembali kelautan,
menjadi buih ketika mencari jalan pulang.

matanya, hitam pekat.
bergelayut lembut
seraya menyimpan kecamuk perasaan yang terlihat melingkari matanya.
seperti tidur-tidur yang tak pernah terpuaskan,
berkelana sepanjang malam.
lalu kembali kelautan.
menjadi buih ketika mencari jalan pulang..

Labels:

Sunday, September 30, 2007

Nebrifa

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Aku tak bisa menebak apa yang ada didalam fikiranmu,
setelah kita tak lagi menemu kata-kata untuk dicerna.
'pun aku masih tak mengerti ketika kau membenamkan kepalamu didadaku
masih dengan diammu.

aku tak buta...
kau bisa lihat kejujuranku tanpa cela.
tapi tak ada satu bahasapun yang mampu kubaca di matamu
dan selalu saja kuartikan diammu masih bersemayam dicawan-cawan anggur
lalu kita tenggelam,
ditengah keriuhan yang langka.

dan orang-orang mulai tertawa
sembari menyeka air mata.

bisa kulihat mereka menyaksikan hidup kita bagai sebuah drama
getir tapi sekaligus menggairahkan...

dan didalam tidurku,
aku masih selalu bermimpi
tentang pertarungan antara elang dan ular.

Labels:

Thursday, July 05, 2007

Tak Kau Dengarkah..?!

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kenapa kau menjadi perempuan yang menunggu
menganyam ragu disudut mataku
disetiap helaan nafasmu yang berat
selalu kau sangsikan dengan sangat
bahwa hatimu pun telah terpikat

aku, lelaki yang berlari
diantara hitam matamu menari
yang selalu berkisah tentang ironi

tak kau dengarkah
aku bicara padamu
ketika bibirku mengucap kata dimatamu
lalu angin berubah menjadi waktu yang membeku

pernah kubilang padamu dulu
aku ingin melukis wajahmu
meski suaraku pecah pada angin yang berderu

pernah kaubilang padaku dulu
kenapa kau tak jujur pada hatimu
ketika kita sama berdiri diujung waktu

Labels:

Ketika Saat Itu Tiba...

aku dilemparkan diantara ketakutan dan kebebasan,
dua hal yang tak bisa berjalan bersama.

disatu sisi aku merasakan kedirianku secara penuh,
meski kadang lebih menyerupai penyakit menahun didiriku.

sementara sisi yang lainnya menunjukkan
betapa kecilnya aku dihadapan waktu,
tapi sekaligus melecutku untuk segera mengambil suatu tindakan.

dengan kegamangan yang sendu, selalu saja aku dipaksa untuk memilih.
antara lari dan sembunyi atau teriak memberontak mengangkangi waktu.

Labels:

Saturday, January 20, 2007

Manusia Bencana

Benarkah manusia dilahirkan dengan dosa?
benarkah seorang bayi yang baru menghirup udara yang kotor ini harus menanggung hutang yang dibuat oleh leluhurnya?

Labels:

Friday, December 22, 2006

Surat Tanpa Perangko

Tak perlu orang lain tahu, tentang apa yang kutulis atau buku apa yang kubaca.
cukuplah pemikiranku saja yang berenang dikepala orang-orang yang mengitariku. dengan mata yang setengah terpejam, pertanda mereka benar-benar mendengarkan apa yang aku katakan.

aku adalah yang memilih. tak pernah berada pada ketegangan yang selalu memaksa airmataku keluar dari setiap rongga tubuhku.

tak perlu orang lain ikut berfikir, tentang bagaimana aku berfikir, memecahkan masalahku.
cukuplah mereka tahu bahwa aku masih mampu berikhtiar.

dan sekaligus menegaskan pada semua bahwa aku bukanlah pada posisi yang memberikan perintah atau ilmu. tapi adalah suatu keharusan moral ketika aku adalah pelaku utama dalam drama ini. sekurang-kurangnya fahamilah itu, agar tak ada kesesatan yang menjerumuskan arah penilaianmu nantinya.

tapi emil...
ternyata kau juga tidak termasuk kedalam orang-orang yang dipilih. untuk menang. seperti mereka yang sudah-sudah, yang selalu telat menyadari perannya.
seharusnya sedari awal aku menyadarinya, betapa pemahamanmu sudah terlalu jauh meninggalkan batas yang telah ku tetapkan pada awalnya.

tapi jangan pernah merasa bahwa kau adalah sosok yang harus menanggung semua ini. jika memang harus ada dosa untuk ditanggung.
tidak! sama sekali tidak.
ini bukan tentang dosa, tapi tentang petanggungjawaban seseorang akan apa yang telah diperbuatnya.

sedari awalpun aku jualah yang mengambil resiko ini.
bahwa akupun dengan senang hati selain menjadi aktor utama dalam drama yang kumainkan sendiri sekaligus sebagai pembanding dan penonton.

seharusnya engkau melihat bagaimana kritik tajamku justru kusarangkan pada ulu hatiku sendiri. tapi juga sekaligus aku melihat kekurangan setting pada drama ini. lalu peran apa saja yang tidak seharusnya ada dalam percakapan ini. setelah itu akan kusingkirkan segala pemandangan yang tak harus ada nantinya. atau dalam pengertian kasarnya adalah pembunuhan karakter yang terencana.

jadi pada dasarnya, akupun tak menyesali ketika suratmu memang tak pernah sampai kesini.
karena aku hanya butuh satu perangko saja untuk tahu dan faham sampai kapan drama ini harus kuakhiri.
selain itu juga karena aku memang tak pernah menyertakan perangko balasan didalam surat yang kukirimkan kepadamu.

selamat malam, Emil.
selalu kita harus berputus asa untuk menyadari betapa kita suka hidup.
terakhir, sebelum kau terlelap. ingatlah pesanku selalu.
semoga mimpimu tidak bercerita tentang senja.

Labels:

Wednesday, November 29, 2006

Sajak ditengah Badai

angin diam
masih dingin sahaja tulang diiris malam
hanya suara jangkrik
mencicit tajam pada dengar

angin diam
sesekali burung kecil yang terbang tergesa
melintas pada pandang dari jendela
tapi hanya jangkrik yang bisa membaca
bahasa alam...
mengapa angin diam
seterusnya hanya kelam.

angin diam
lalu murka
dunia pecah terbata...

Labels:

Saturday, October 21, 2006

JEJAK TANAH

bayangbayang senja
yang menyusup disela hijau pohon perdu
lalu pecah pada batu.
kau masih duduk disitu
ketika bulan dicumbu pelangi

sekejap matamu berani
menantang pada langit tinggi
persilangan apakah yang sedang terjadi
toh, pada hati kau tak lagi membenci.
meski disana masih tinggal duri.

dimatamu membayang warna pelangi
lalu siluet sungai mati
dongeng bulan purba
tentang sebuah batu yang pecah dan mengalir
membuncah merah darah
pada jejak tanah

bulan hitam..
ketika tak sempat menari
dimana kau sembunyikan senja?

Aug. 2006

Labels: ,

SEBELUM REDA

 mari dik,
kuajarkan kau mengaji
tentang segala yang hakiki lagi pasti.
masih hujan sahaja malam
tak perlu kitapun memburu waktu
biarlah mereka sangsi pada tunggu
'pun pagi masih jauh 'tuk dituju.
kau dengar, suara genting masih gaduh
lekaskanlah dirimu berbasuh
agar kita tak sebentar-sebentar mengeluh.
akupun orangnya tak selalu bisa cermat
mengerjakan segala dengan khidmat
yang pasti disini bisa jadi lain cerita nanti
kaupun terimalah dengan hati
karna cinta kita,
masih goyah pada gundah
mari dik,
segera selesaikan kita punya kerja
sebelum hujan berhenti pula.


Labels:

PERCAKAPAN HUTAN

 "apa yang kau tahu tentang pengharapan?" bertanya seekor Serigala kepada Gagak.
"pengharapan; adalah rindu anak bangau kepada awan.
saat meringkuk lemah dalam buaian jerami kusam." jawab Gagak.
"apa yang kau tahu tentang kesepian?" tanya Serigala lagi.
"kesepian; adalah malam-malam tanpa bayangan, yang tersimpan rapi diliang-liang.
disitulah ular-ular mendekam." jawab Gagak.
"apa yang kau tahu tentang benci?" tanya Serigala seraya beringsut perlahan.
"benci; adalah ketika rindumu tak tersampaikan, lalu duri. selamanya duri."
"itulah perisai bagi si landak agar cintanya tetap tinggal didalam hati." jawab Gagak.
lalu bersimpuh tenang merapikan sayapnya.
"apa yang kau tahu tentang kerinduan?" tanya Serigala, dengan muka yang bersemu.
"ia adalah kata yang tak terucapkan, hanya ada untuk dilupakan. sejenak... hanya sejenak."
"hingga semua yang hidup diam tak beranjak, dan apa yang sama sekali aku tak tahu, ketika waktu membeku, selamanya beku." jawab Gagak tersedu.
"dan apa yang kau tahu tentang hidup dan mati?" tanya Serigala dengan nafas memburu.
"ia adalah bertanya, membaca, memahami dan mencari jawaban tentang segala misteri. itulah hidup."
"sedang untuk mati, aku sendiri tak tahu. ketika waktuku tlah membeku, maka tak ada lagi yang perlu kupahami."
"lalu, jelaskan padaku tentang diantara hidup dan mati!" desak Serigala.
"marilah kita membicarakan tentang kepasrahan.
yaitu ketika aku terjebak diantara gigi-gigimu yang kuat mencengkeram. bagi kita itulah saat-saat antara hidup dan mati."
"meskipun aku berteriak dan meronta, tak ada yang istimewa, kita mesti menjalankan peran kita. sebagai mangsa atau pemangsa."
jawab Gagak dengan tenang.

Labels:

Friday, October 20, 2006

RAGU

pecahkan aku...
dengan bulir salju yang mengering
pada lenting semampai disemu angin berkabut
ketika pagi membeku

patahkan aku...
pada getas ranting bambu yang silir melambai
disiang kering musim kemarau

campakkan aku...
tanpa resah
disetiap kelokan waktu
ketika kita berhenti pada ragu.

Labels:

DITEPI NISAN BATU

inilah masa datang telah pasti
meski hidup tak pernah sedikit juapun
mengingat waktu yang tiba nanti
ketika raga tersungkur, bersimpuh pada bumi
apakah lagi sekarang yang hendak dipertentangkan?
makin jauh lalu waktu, makin tua badan menjadi
tak ada lagi masa buat menunggu, segalanya terlepas sekejap
disetiap akhir percakapan, terlintas kenangan
kepada masa suka-duka, yang saling bersua bahgia
setelah segalanya, jiwa pergi dalam sendiri
tanpa mimpi.

Labels:

PEREMPUAN DANAU

keras wajahmu masih membayang
pada redup cahaya yang disusupkan awan
membentuk siluet panorama
yang ditumbuhi bukit-bukit hitam dengan pinus yang meranggas
pada matamu, kau perdengarkan sebuah lagu
tentang dusta.
lalu bibirmu mengeja sebuah pertanda
segala suatu akan binasa.
"lihatlah, luksa!" kau berteriak
"dikepalaku berkecambah benihbenih murka,
ketika aku tak sanggup lagi menanggung semua.
pada getir... semoga kutemukan jawabannya:.
lalu kau berlari ketepi danau
pada dingin kakimu berkecipak
dengan tangan yang bergetar, kau kecap sunyi senyap
tubuhmu basah, seiring mata resah yang tak lagi bergairah
hanya tinggal bisu-beku... ketika berserah pada waktu.

Labels:

RITUAL JANJI

selayak senja yang masih sendu
setiap perasaan yang tinggal adalah sangsi
tentang gejolak suram situasi.
pada perang, kau menelingsup tenang
mencari sela diantara detak waktu... untuk mendesah
tak ada lagi eja yang sempat singgah
hanya resah masih rebah.. pada waktu.
menunggu dosa yang menggenggam erat janji
tentang mati.
lestari...
tak hendak aku menghakimi
pada apa yang kita yakini nanti
tapi semesta kita, hanya tinggal dalam kata
'pun sirna seiring mata belajar berdusta
lalu batas apa yang kau pancang
ditanah berundak berwarna terang?
jika bukan bimbang yang tak lagi bersayap
luruh pada tanah.
disini, aku mengecup rindu
pada beku, dibibir batu.

Labels:

DIGALANGAN KAPAL

pada sepi, aku kembali
meski tak hendak mencari, kepada siapa yang menanti
pada sepi, aku kembali
setidaknya buat hari ini, meski sendiri
banyak yang pergi, setidaknya bukan aku punya belahan hati
pada sepi, aku kembali
bukan 'tuk mencari, atau menangisi yang pergi
kembaliku, karna aku punya janji
aku pasti kembali... pada sepi
meski sendiri.

Labels:

Sunday, October 01, 2006

BERMALAM DISTASION

 sepi.,.. adalah hati yang dikutuk
jang bernjanji sepandjang malam,
dicafe-cafe, dikedai minum dan lokalisasi.
sepi mendjadi kutu... reinkarnasi hari kemarin
bertahkta dikursi bambu, dikasur-kasur dan kepala manusia.
sepi mendjadi mulia... radja hari ini
diselokan, liang tikus dan tumpukan sampah.
sepi mendjadi keramat...
dipohon rindang, hutan-hutan dan pemakaman.
sepi menghilang... sesaat.
dipasar-pasar, dipesta dan kerumunan.
sepi semakin tinggi, ada sajap dipundaknja.
menjentuh awan bulan dan matahari.
sepi datang lagi... masih sendu.
dimuseum, perpustakaan dan buku-buku sedjarah.
lalu dilupakan...sedjenak.
dalam tidur, dalam mimpi dan bersama mati.
sepi mendjadi teman, dalam sendiri.
sepi mendjadi musuh...
para tjopet, tukang beca' dan PSK.


Labels: